URGENSI MAINTAINABILITY SISTEM INFORMASI PADA PERUSAHAAN NAVER LINE

UJIAN AKHIR TRIWULAN

SISTEM INFORMASI MANAJEMEN


Oleh:

Bimahri Qaulan Tsaqiela

P056132161.51

R 51

Dosen:

Dr. Ir. Arif Imam Suroso, MSc(CS)

 

PROGRAM MAGISTER MANAJEMEN

PROGRAM PASCASARJANA MANAJEMEN DAN BISNIS

INSTITUT PERTANIAN BOGOR

2014


I.                   PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang

Tingginya persaingan dan permintaan dalam dunia bisnis membuat pelaku bisnis harus cepat beradaptasi terhadap kondisi saat ini. Sistem informasi dipandang sebagai kebutuhan perusahaan pada semua bidang bisnis untuk menjawab tantangan tersebut. Kunci keunggulan kompetitif suatu perusahaaan adalah sistem informasi. Hal tersebut akan mempengaruhi kegiatan operasional perusahaan secara keseluruhan.

Sistem informasi yang efektif dan efisien akan mempengaruhi kualitas pelayanan kepada pelanggan serta stakeholder lainnya. Pelanggan dapat menilai kualitas perusahaan dari sistem yang digunakan serta tingkat pelayanannya kepada pelanggan. Strategi yang dapat dilakukan perusahaan agar terus memiliki sistem informasi yang baik dan berkualitas adalah dengan melakukan pemeliharaan (maintenance) sistem informasi perusahaan secara berkala.

Naver merupakan salah satu perusahaan yang bergerak di bidang teknologi informasi. Perusahaan tersebut meluncurkan produk yang dinamakan LINE yaitu merupakan aplikasi pesan instan gratis. Pada tahun 2013 pengguna LINE mencapai 230 juta orang di seluruh dunia. Tingginya pengguna aplikasi ini membuat perusahaan harus terus menigkatkan pelayanannya. Peningkatan pelayanan dilakukan dengan pemeliharaan sistem informasi. Naver terus memperbaharui dan melengkapi sistem informasi agar kualitas layanannya tetap terjaga. oleh karena itu, dalam makalah ini akan diuraikan mengenai urgensi maintainability sistem informasi yang dilakukan perusahaan Naver Line.

1.2  Tujuan

Berdasarkan uraian pada latar belakang, maka tujuan penulisan makalah ini adalah membahas mengenai urgensi maintainability sistem informasi pada perusahaan Naver Line.

 

II.                TINJAUAN PUSTAKA

2.1    Definisi Sistem Informasi

Sistem informasi merupakan penggabungan dari kata sistem dan informasi. Menurut Kadir (2003:54) sistem adalah sekumpulan elemen yang saling terkait atau terpadu yang dimaksudkan untuk mencapai tujuan. Ackof dalam Effendy (1989:51) mengatakan bahwa sistem adalah setiap kesatuan, secara konseptual atau fisik, yang terdiri dari bagian-bagian dalam keadaan saling tergantung satu sama lain. Secara fisik, sistem adalah sekumpulan dari unsur/elemen yang berinteraksi dan bekerja bersama-sama untuk mencapai tujuan yang ditetapkan. Secara fungsi, sistem adalah jaringan kerja dari prosedur-prosedur yang berupa urutan kegiatan yang saling berhubungan, berkumpul bersama-sama untuk mencapai tujuan tertentu. Dari definisi tersebut, dapat disimpulkan bahwa sistem terdiri atas elemen yang saling berhubungan sehingga membentuk kesatuan yang utuh untuk mencapai tujuan yang ditetapkan. Sedangkan informasi adalah data yang telah diolah menjadi suatu bentuk informasi yang lebih berguna bagi si penerima dan nilai tersebut dapat digunakan untuk pengambilan keputusan (Mulyadi, 2001).

Definisi mengenai sistem informasi dikemukakan oleh Alter (1992), bahwa sistem informasi merupakam kombinasi antar prosedur kerja, informasi, orang dan teknologi informasi yang diorganisasikan untuk mencapai tujuan dalam sebuah organisasi (Kadir, 2003). Sedangkan menurut Oetomo (2006), sistem informasi merupakan kumpulan elemen yang saling berhubungan satu sama lain yang membentuk satu kesatuan untuk mengintegrasikan data, memproses, menyimpan, dan mendistribusikan informasi.

Komponen-komponen Sistem Informasi adalah :

  1. Hardware (perangkat keras).
  2. Software (perangkat lunak).
  3. Prosedur : sekumpulan aturan yang dipakai untuk mewujudkan pemrosesan data untuk menghasilkan output.
  4. Basis data : suatu pengorganisasian sekumpulan data yang saling terkait sehingga memudahkan proses pencarian informasi.
  5. Jaringan komputer dan komunikasi data.
  6. Brainware.

Dari beberapa defenisi tersebut dapat disimpulkan bahwa sistem informasi

adalah kumpulan dari prosedur kegiatan yang memproses data sedemikian rupa

sehingga dapat menghasilkan informasi yang bermanfaat agar dapat digunakan oleh setiap orang dalam mengambil suatu keputusan yang tepat.

2.2    Definisi Urgensi Maintainability Sistem Informasi

Urgensi dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia memiliki definis keharusan yg mendesak atau hal sangat penting. Menurut Ebeling (1997), perawatan (maintenance) didefinisikan sebagai aktivitas agar komponen/sistem yang rusak akan dikembalikan/diperbaiki dalam suatu kondisi tertentu pada periode tertentu. Maintainability didefinisikan oleh Martin dan McClure (1983 dalam  Schneidewind 1987) sebagai suatu kemudahan dimana sebuah sistem software bisa diperbaiki ketika terjadi kesalahan atau kekurangan dan bisa dikembangkan atau disusutkan untuk memenuhi kebutuhan yang baru. Dari beberapa definisi di atas dapat disimpulkan bahwa urgensi maintainability sistem informasi adalah pentingnya perawatan/pemeliharaan dalam kondisi tertentu serta pengembangan suatu sistem informasi untuk memenuhi kebutuhan baru.

2.2.1.      Jenis Pemeliharaan Sistem Informasi

Dalam pemeliharaan sistem informasi terdapat beberapa jenis pemeliharaan yang dilakukan sesuai kebutuhan dalam perusahaan. Jenis Pemeliharaan sistem dapat digolongkan menjadi empat jenis (Anonymous dalam Rini, 2012):

  1. Pemeliharaan Korektif

Pemeliharaan korektif adalah bagian pemeliharaan sistem yang tidak begitu tinggi nilainya dan lebih membebani, karena pemeliharaan ini mengkoreksi kesalahan-kesahan yang ditemukan pada saat sistem berjalan.

  1. Pemeliharaan Adaptif

Pemeliharaan adaptif dilakukan untuk menyesuaikan perubahan dalam lingkungan data atau pemrosesan dan memenuhi persyaratan pemakai baru.

  1. Pemeliharaan Penyempurnaan

Pemeliharaan penyempurnaan mempertinggi cara kerja atau maintainabilitas (kemampuan untuk dipelihara). Tindakan ini juga memungkinkan sistem untuk memenuhi persyaratan pemakai yang sebelumnya tidak dikenal. Ketika membuat perubahan substansial modul apapun, petugas pemeliharaan juga menggunakan kesempatan untuk meng-upgrade kode, mengganti cabang-cabang yang kadaluwarsa, memperbaiki kecerobohan, dan mengembangkan dokumentasi.

  1. Pemeliharaan Preventif

Pemeliharaan Preventif terdiri atas inspeksi periodik dan pemeriksaan sistem untuk mengungkap dan mengantisipasi permasalahan.

2.2.2.      Prosedur Pemeliharaan Sistem Informasi

Maintainabilitas (maintainability) sistem bertambah jika sistemnya dirancang agar mudah diubah. Aspek ini meliputi prosedur-prosedur berikut (Anonymous dalam Rini, 2012):

  1. SDLC (System Development Life Cycle) dan SWDLC (Software Development Life Cycle)

Aplikasi yang profesional dalam SDLC dan SWDLC dan teknik maupun perangkat modeling yang mendukungnya adalah hal-hal keseluruhan yang terbaik yang dapat seseorang lakukan untuk meningkatkan maintainabilitas sistem.

  1. Definisi Data Standar

Trend ke arah sistem manajemen database relasional mendasari dorongan ke normalisasi data dan definisi data standar.

  1. Bahasa Pemrograman Standar

Penggunaan bahasa pemrograman standar, misalnya C atau COBOL, akan mempermudah pekerjaan pemeliharaan. Jika perangkat lunak C atau COBOL berisi dokumentasi internal yang jelas dan lengkap, seorang programmer pemeliharaan pemula atau pemakai dapat memahami apa yang sedang dikerjakannya. Lagipula C dan COBOL adalah bahasa Universal yang umumnya diketahui oleh sebagian besar orang. Dengan demikian penggantian programmer pemeliharaan tidak begitu berdampak negatif pada kemampuan perusahaan untuk memelihara program C atau COBOL lama.

  1. Rancangan Moduler

Programmer pemeliharaan dapat mengganti modul program jauh lebih mudah daripada jika berurusan dengan keseluruhan program.

  1. Modul yang Dapat Digunakan Kembali

Modul biasa dari kode yang dapat digunakan kembali, dapat diakses oleh semua aplikasi yang memerlukannya.

  1. Dokumentasi Standar

Diperlukan sistem, pemakai, perangkat lunak dan dokumentasi operasi yang standar sehingga semua informasi yang diperlukan untuk beroperasi dan pemeliharaan aplikasi khusus akan tersedia.

  1. Kontrol Sentral

Semua program, dokumentasi, dan data tes seharusnya diinstal dalam penyimpanan pusat dari sistem CASE (Computer-Aided Software Engineering atau Computer-Assisted Software Engineering).

III.             PEMBAHASAN

 3.1  Profil Perusahaan Naver Line

LINE adalah sebuah aplikasi pengirim pesan instan gratis yang dapat digunakan pada berbagai platform seperti smartphonetablet dan komputer. LINE difungsikan dengan menggunakan jaringan internet sehingga pengguna LINE dapat melakukan aktivitas seperti mengirim pesan teks, mengirim gambar, video, pesan suara, dan lain lain. Koneksi LINE dilakukan dengan menggunakan jaringan internet apapun yang digunakan perangkat host.

LINE dikembangkan oleh perusahaan Jepang bernama NHN Corporation. LINE pertama kali dirilis pada Juni 2011 dan mulanya hanya dapat digunakan pada sistem iOS dan Android. Setelah sukses pada kedua sistem tersebut LINE masuk dalam sistem operasi besutan BlackBerry. Lalu pada tahun 2012, LINE resmi meluncurkan aplikasi yang dapat digunakan pada perangkat Mac dan Windows.

Kesuksesan LINE sebagai aplikasi pengirim pesan instan terlihat dari pengguna yang mencapai 101 juta di 230 negara di dunia. LINE menduduki posisi 1 dalam kategori aplikasi gratis di 42 negara, diantaranya Jepang, Indonesia, Taiwan, Spanyol, Rusia, Hongkong, Thailand, Singapura, Malaysia, Macau, Swiss, Arab Saudi, dan lain-lain.

3.2  Urgensi Maintainability Sistem Informasi pada Perusahaan Naver Line

Sampai saat ini, Line menggunakan HTTP untuk mengirimkan pesan. HTTP terkenal karena penggunaannya dalam web browser, memiliki kekuatan dan dipahami dengan baik. Namun HTTP  memiliki kelemahan, sederhananya, HTTP tidak dirancang untuk jenis aplikasi real-time. HTTP didasarkan pada model pesan/balasan sederhana: mengirim pesan melalui koneksi TCP dan menunggu balasannya. HTTP tidak cocok dengan layanan pesan untuk alasan berikut:

  1. Tidak memungkinkan untuk mengirimkan beberapa permintaan secara paralel melalui koneksi tunggal dan menerima tanggapan dari urutan (dalam urutan yang berbeda dari urutan permintaan dikirim).
  2. Dalam rangka untuk memeriksa pesan baru klien harus mengirim pesan kepada server. Semakin sering pesan dikirim, semakin menguras baterai perangkat. Line telah menggunakan teknik yang disebut “Long polling” di HTTP sebagai solusi untuk masalah ini. Hal ini membutuhkan koneksi TCP tersendiri, bagaimanapun karena tidak ada yang dapat dikirim saat menunggu respon.

Ketika sering mengirimkan pesan sederhana, permintaan HTTP & respon header dapat dengan mudah mengisi total ukuran data relatif terhadap pembayaran beban. Mengirim beberapa pesan pada koneksi yang sama hasilnya akan berlebihan atau menjadi tidak efektif. Karena masalah tersebut, Line kemudian merancang dan menerapkan protokol baru yang lebih efisien untuk mengatasi masalah. Line memutuskan untuk menerapkan protokol SPDY (speedy). SPDY merupakan protokol generasi berikutnya untuk web browser yang dikembangkan oleh Google dan diadopsi sebagai HTTP 2.0.

Keuntungan dari sitem SPDY adalah: (1) Beberapa pesan dapat dikirim secara paralel (multiplexing) dan balasan dapat diterima tidak pada tempat yang sama, (2) Header dapat ditekan, dioptimalkan dengan ramalan dari jenis data yang sering dikirim dalam header HTTP, (3) Menggunakan fitur ping dari SPDY, sehingga Line dapat memeriksa kesehatan koneksi.

Line menyediakan koneksi non-encrypted. SPDY biasanya digunakan dengan TLS, tapi hal tersebut memperlambat waktu koneksi dan transfer terutama melalui koneksi mobile. Jadi kami memutuskan untuk memungkinkan koneksi non-encrypted melalui jaringan mobile. Ketika menggunakan TLS, Line memutuskan untuk tidak menggunakan NPN. NPN adalah metode untuk menemukan dan menegosiasikan protokol tingkat aplikasi seperti SPDY selama handshake TLS. NPN dapat mengurangi jumlah seluruh perjalanan yang harus dilakukan ketika memulai sambungan jika menambahkan protokol tingkat aplikasi handshake setelah TLS handshake normal. NPN bermanfaat bagi browser yang tidak diketahui apakah host yang diberikan mendukung SPDY. Namun, dalam kasus Line, Line mengetahui bahwa host mendukung SPDY, sehingga penemuan protokol bagian dari NPN tidak berguna bagi Line. Selain itu, dengan menggunakan NPN akan memerlukan bundling versi terbaru dari OpenSSL di app. Faktor-faktor ini membuat Line  memutuskan untuk tidak mengadopsi NPN.

Selain mengadopsi SPDY, Line juga menambahkan port scanning. Bahkan port yang umum digunakan dapat diblokir pada beberapa jaringan. Dalam rangka untuk memastikan bahwa semua pengguna dapat menggunakan Line, pihak Line melakukan survei pada operator seluler utama di seluruh dunia untuk menentukan port yang dapat diakses dan memilih untuk memindai beberapa port yang dapat diakses pada sebagian besar operator. Kami juga menyediakan kembali HTTP melalui port standar 80.

Line menambahkan dukungan untuk SPDY pada custom-built API gateway server mereka. Line menyebutnya “LEGY” yang merupakan kependekan dari “Line Event- delivery Gateway. Seiring waktu berlalu penggunaan memori pada LEGY akan mengembang. Hal ini disebabkan ukuran tak terduga SPDY dari header yang sudah dikompres sesuai dengan bahasa dan negaranya. Line mengurangi penggunaan memori dengan mengoptimalkan kode. Line berhasil mengadopsi SPDY, mengurangi jumlah koneksi dan meningkatkan kecepatan pengiriman pesan.

IV.             KESIMPULAN

 Berdasarkan pembahasan yang telah disampaikan pada bab sebelumnya, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa perusahaan Naver Line melakukan pemeliharaan penyempurnaan. Naver Line melakukan perubahan sistem dari penggunaan HTTP menjadi SPDY yang membuat pengiriman pesan instan menjadi lebih cepat. Pemeliharaan tersebut dilakukan untuk meningkatkan pelayanan untuk pengguna aplikasi Line.


DAFTAR PUSTAKA

Alter, S. 1992. Information System: A Management Perspective. The Benjamin/Cumings Publishing Company, Inc.

Chen, Y. C. and Perry, J. 2003. IT Outsourcing: A Primer for Public Manager. http://www.businessofgoverment.org/. Diakses tanggal 15 Maret 2014.

Effendy, Onong Uchjana. 1989. Kamus Komunikasi. Bandung: PT. Mandar Maju.

Kadir, Abdul. 2003. Pengenalan Sistem Informasi. Yogyakarta: Andi Offset.

Kotter, John P. (1996). Leading Change, Menjadi Pionir Perubahan, (Joseph Bambang MS, Penerjemah). Jakarta : PT Gramedia Pustaka Utama.

O’Brien, J. A. and G. M. Marakas. 2010. Introduction to Information Systems, fifteenth edition. The McGraw-Hill Companies, Inc.

Oetomo, Budi Sutedjo D. 2006.  Perencanaan dan Pembangunan Sistem Informasi. AndiPublisher: Yogyakarta.

Rini. 2012. Pengendalian dan Pemeliharaan Sistem Informasi. http://akongo.mhs.uksw.edu/2012/11/pengendalian-dan-pemeliharaan-sistem.html. Diakses tanggal 16 Maret 2014.

Rogers, Christopher. 2013. Adopting SPDY in Line – Part 1: An Overview 1. http://tech.naver.jp/blog/?p=2381#more-2381. Diakses tanggal 16 Maret 2014.

Schneidewind NF. 1987. The state of software maintenance. IEEE Transactions on Software Engineering. 13(3): 303-310.